No Image Available

Modul Pelatihan Implementasi MBG di Satuan Pendidikan

 Author: Direktur Jenderal PAUDDIKDASMEN  Category: Modul dan Materi Pelatihan  Publisher: Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini  Pages: 119  File Size: 5 MB  Tags: coe-ppg | coppg | edukasi gizi | mbg | modul | repositori | satuan pendidikan More Details  Download
 Deskripsi:

Kondisi gizi dan kesehatan anak usia sekolah di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan serius. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan bahwa mereka masih menghadapi berbagai tantangan gizi. Pada kelompok usia 5-12 tahun, 11% anak kurus dan 19,7% gemuk atau obesitas. Pada kelompok usia 13-15 tahun, 7,6% anak kurus dan 16,2% anak gemuk atau obesitas. Pada kelompok usia 16-18 tahun sebanyak 8,3% anak kurus dan 12,1% anak gemuk atau obesitas. Selain itu, sebanyak 15,3% anak usia 5-14 tahun dan 15,5% anak usia 15-24 tahun mengalami anemia. Anemia, yang umumnya disebabkan oleh kekurangan zat besi, berdampak langsung pada konsentrasi, energi, daya tahan tubuh, dan performa belajar anak. Kondisi ini menjadi sangat relevan untuk ditangani melalui peningkatan asupan gizi dan edukasi yang tepat di lingkungan sekolah. Di sisi lain, stunting atau kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan gizi nasional. Upaya perbaikan gizi anak usia sekolah, seperti melalui Program MBG, memegang peranan penting dalam membangun fondasi kesehatan generasi masa depan. Dengan pembiasaan makan bergizi dan edukasi gizi yang berkelanjutan di satuan pendidikan, program ini diharapkan mampu mendukung terputusnya siklus antar generasi dari masalah gizi kronis, termasuk stunting.

Di samping itu, pola konsumsi makanan anak sekolah masih banyak dipengaruhi oleh pilihan makanan yang kurang sehat dan tidak higienis. Berdasarkan hasil SKI 2023, lebih dari 97% anak usia 5-19 tahun kurang konsumsi sayur dan buah. Sekitar 1 dari 2 anak mengonsumsi minuman manis lebih dari satu kali sehari dan sekitar 1 dari 3 anak mengonsumsi makanan berlemak atau gorengan lebih dari satu kali sehari. Kebiasaan jajan sembarangan di luar lingkungan sekolah menjadi salah satu faktor risiko anak terpapar makanan yang tidak memenuhi standar gizi dan keamanan pangan. Masalah ini tidak hanya menghambat pencapaian gizi optimal, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit bawaan makanan (foodborne diseases) dan infeksi saluran pencernaan. Program MBG hadir sebagai solusi strategis yang menyeluruh, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi harian anak-anak di satuan pendidikan, tetapi juga untuk menjamin keamanan pangan siap saji yang dikonsumsi peserta didik dengan menanamkan perilaku makan sehat pada anak sekolah dan santri. Oleh karena itu, penyelenggaraan program MBG harus sesuai dengan prinsip standar gizi, keragaman pangan, penyesuaian dengan preferensi lokal, serta menjamin keamanan pangan.

 Kembali